DRAFT

Ego

Rio Draft

Kita sama dengan makhluk lainnya, yang juga menginginkan segala jenis kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan terkecil sekalipun, dan akan sangat egois dan tidak berbelas kasih apabila kita mendambakan dan memperjuangkan tercapainya kebahagiaan abadi dan kedamaian sempurna hanya untuk dinikmati oleh diri sendiri.

Orang yang paling pintar diantara kita, akan memiliki pandangan bahwa apabila semua makhluk belum memperoleh kebahagiaan tertinggi, maka tanggung jawabnya sebagai individu terhadap makhluk lain belum terpenuhi. Mengapa hal tersebut menjadi tanggung jawab kita? Karena kebahagiaan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan kita, termasuk pencapaian pencerahan, bergantung pada makhluk yang lain tanpa terkecuali. Sehingga sudah menjadi tugas kita untuk membalas kebaikan ini.

Hambatan pertama dalam diri kita yang harus dihadapi adalah kebiasaan buruk yang selalu merasa melekat pada makhluk tertentu saja (yang kita sukai), memusuhi sebagian lagi, dan bersikap acuh terhadap sisanya.

Karena ego kita – sebuah pandangan keliru tentang bagaimana kita ada – membuat konsep “aku” pada diri kita semakin kuat, kita menjadi orang yang berjuang hanya demi kebahagiaan diri sendiri, menjauhi segala sesuatu yang kita rasa tidak nyaman, dan tetap acuh terhadap sebagian besar sisanya.

Kita menghubungkan semua bentuk perasaan tersebut dengan berbagai objek yang kita rasakan, dan ketika objek tersebut kebetulan berbentuk makhluk lain, kita menyebut mereka sebagai “sahabat”, “musuh”, dan “orang asing”. Hasilnya, kita menjadi sangat melekat dan berusaha sebisa mungkin untuk menolong “sahabat” kita, membenci dan berupaya mencelakai “musuh” kita, dan menjauhi atau tidak peduli terhadap kebanyakan sisanya, “orang asing”, yang menurut kita sama sekali tidak ada hubungannya baik dengan kebahagiaan maupun masalah yang kita hadapi.

Oleh karena itu, kita harus melatih batin kita untuk memandang semua makhluk dengan sikap mental kesetaraan, dan merasakan bahwa mereka semua setara dan sama-sama pantas menerima bantuan kita dalam usaha pencapaian kebahagiaan mereka.

Bahkan dalam hidup ini, teman yang selalu kita dekati dan selalu berusaha kita bantu belum tentu selalu menjadi teman kita. Pada awalnya, kita bahkan tidak tahu bahwa ia ada, dan karena ia tidak membantu ataupun menghalangi usaha kita mencapai kebahagiaan, maka kita akan menganggap mereka sebagai “orang asing”.

Ketika kemudian dengan suatu cara ia memenuhi kenginan kita, maka kita mulai menganggapnya sebagai orang yang dapat memberikan bantuan pada kita, sebagai “teman”, dan kita akan mencoba untuk menarik perhatiannya dengan berusaha berbuat baik dan melakukan segala sesuatu agar kita dapat terlihat baik di matanya, dengan berusaha untuk menutup-nutupi semua kesalahan kita.

Bagaimanapun juga, hubungan persahabatan yang terjalin di antara kita – yang dipertahankan dengan upaya yang keras dan cukup banyak kebohongan – tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat salah satu dari kita akan melakukan sesuatu yang mengecewakan atau timbul kebosanan dalam hubungan persahabatan yang terjalin. Lalu, teman yang tadinya terlihat begitu menarik, akan mulai terlihat membosankan, dan menjadi sesuatu yang harus dihindari.

Secara bertahap, atau bahkan tiba-tiba hubungan persahabatan itu akan memburuk, dan kita berubah menjadi “musuh”. Tentu saja hal ini tidak selalu terjadi, namun masing-masing dari kita pasti pernah mengalami hal seperti ini.

Oleh karena itu, pemberian label “teman”, “musuh”, atau “orang asing” yang selalu kita gunakan tidaklah permanen dan bukanlah berdasarkan adanya inti sejati yang dimiliki seseorang. Pemberian label tersebut merupakan cerminan dari ego kita berdasarkan pertimbangan apakah seseorang bermanfaat bagi pencapaian kebahagiaan kita, menyulitkan kita, atau tampak tidak ada hubungannya dengan urusan kita.

 

Picture of Rio

Rio

Secangkir bintang yang sengaja dinaskahkan agar tetap hidup, sampai sisa waktu yang ada menjadikannya sejarah.