DRAFT

Bijak

Rio Draft

keyakinan itu muncul begitu saja, mendobrak sisi yang tak terlihat. ketika logika di padukan dengan sedikit perasaan, maka yang terjadi adalah toleransi/kebijakan/memaklumi. tidak ada yang salah, hanya saja terkadang memaklumi sesuatu yang sudah (akan) terjadi seperti implementasi dari sebuah keragu-raguan yang tidak berpendirian (menurutku).

memaklumi tidak bisa dikatakan bijaksana, karena pada hakikatnya bijaksana berbeda dengan memaklumi. bijaksana itu adalah ketika kita bisa mengambil tindakan sesuai dengan apa yang terjadi, menarik satu tarikan garis tegas, tanpa kompromi. ketika salah, maka bijaksana akan mengatakan bahwa itu salah (menurutku).

memaklumi? maka dia akan sangat mudah memaafkan kesalahan itu/menganggap yang sudah terjadi itu tidak pernah terjadi, singkat kata dengan memaklumi kita dibutakan oleh kebenaran. berharap seseorang/kelompok/institusi itu akan belajar di kemudian hari agar tidak melakukan kesalahan yang serupa. tapi sebenarnya itu hanya akan menjadikan bom waktu yang setiap saat bisa meledak, menghancurkan kepercayaan dan keyakinan, ekstrimnya akan menghancurkan diri kita yang semula bersikap "bijak".

menjadi sangat berbeda, setidaknya itu yang bisa ku simpulkan dari beberapa kejadian. mengambil tindakan "bijak' dengan cara memaklumi. apakah bisa di salahkan, atau itu sebuah pembenaran? tentu itu akan kembali pada diri kita masing-masing sebagai pelakunya.

tidak harus terburu-buru untuk menyimpulkan sesuatu. terkadang ada beberapa cara yang mulai di lupakan (olehku). setidaknya itu yang baru ku sadari.

sejuta kesalahan dalam pengambilan keputusan akan lebih berharga daripada tidak mengambil keputusan sama sekali. semuanya hanya akan menjadi sebuah proses, berat, ringan, itu hanya sebuah ukuran. menjadi tidak penting jika dibandingkan dengan apa yang di dapatkan.

seringkali, proses itu dengan mudah di loncati begitu saja, ingin mencapai garis finish tanpa harus melakukan start. mana mungkin itu akan terjadi, hanya sang pemimpi tanpa realisasi yang akan mencoba mempraktikkan teori itu.

akhir-akhir ini sering ku dengar tentang "risk taker, safety player, problem solver". seberapa sering ku coba untuk mengerti tentang apa yang di perbincangkan, mencoba memahami dari setiap pemahaman baru, dan kemudian setelah semuanya di analisis, saya bukanlah seorang "risk taker, atau problem solver". tragis, padahal awalnya aku menyangka bahwa semua itu adalah aku, aku adalah itu yang di maksud. namun, tak ada pembenaran yang dapat ku temui di dalamnya.

bagaimana mungkin aku menyebut diriku sebagai "risk taker" sedangkan aku hanya berdiri dan berjalan di dalam lingkaran. contoh sederhana, ketika kita sudah melakukan kegiatan yang berulang-ulang dengan standarisasi dan konsekuensi yang tentunya bukan hanya terbayang, teraba, tetapi sudah terlihat. mekanismenya pun kita buat sedemikian rupa, sehingga setiap kejadian yang akan terjadi sudah mampu terantisipasi. prediksinya akan sangat tepat, kenapa? karena kita sudah melakukannya berkali-kali, di tempat yang sama, dengan orang-orang yang sama, dengan konsep yang sama? lalu dimana "risk takernya?"

oke, kembali mengenai "bijak/memaklumi/toleransi" sebenarnya semua itu benar, hanya saja terkadang implementasinya terlalu mudah di bengkokkan dengan emosi, perasaan. dan ketika semua pembenaran itu dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah menunggu bom waktu itu membunuh kita, menjadikan diri kita berbeda, dari sebelumnya. drastis. tanpa ada kepercayaan terhadap siapapun, menjadi sangat individualis. dan jika sudah seperti itu, jangan salahkan lingkunganmu, jangan salahkan perasaanmu, jangan salahkan logikamu. salahkanlah, kenapa kau tidak mampu menyadari itu dari awal.

perasaan yang terlalu berlebihan terhadap seseorang/barang itu selalu tidak baik. karena sesuatu yang berlebihan itu sungguh tidak di sukai oleh Allah SWT. maka, jangan gunakan perasaan yang berlebihan, jangan pula menggunakan logika tanpa emosi. semuanya harus seimbang.

lalu, jadilah orang yang benar-benar bijak..

oleh S.M.

Picture of Rio

Rio

Secangkir bintang yang sengaja dinaskahkan agar tetap hidup, sampai sisa waktu yang ada menjadikannya sejarah.